5 Mitos Pedalaman di Alam Liar yang Perlu Diketahui

Mitos Pedalaman di Alam Liar. Hidup di alam bebas cukup jauh berbeda. Banyak cara-cara liar yang tampak membingungkan, seperti takhayul, perilaku hewan liar, perilaku alam dan lain sebagainya yang terlalu banyak untuk dihitung. Ada beberapa yang tidak berbahaya, tapi karena mengikuti cara orang lain bahwa itu berbahaya, bisa membuat siapapun banyak masalah. Pergi ke alam liar seolah-olah pergi untuk hal yang amat sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kematian dalam situasi yang tidak beruntung.
Mitos di Alam Liar
Pengetahuan kehidupan alam liar bisa dilihat di TV pendidikan maupun film. Berbagai hal mudah dikenal melalui film dan ini saatnya untuk menyaring beberapa mitos di alam liar yang tentu saja tidak asing di telinga.

1. Mitos : Semua Kalajengking Akan Membunuh Anda

Faktanya, meski semua kalajengking beracun, tidak banyak yang benar-benar berbahaya. Dari sekitar 1.500 spesies kalajengking di dunia, 25 diantaranya bisa memberikan dosis racun yang berpotensi mematikan. Hanya ada satu dari mereka yaitu Kalajengking Arizona, di Amerika Serikat. Kalajengkin ini aktif di malam hari dan tinggal di daerah dingin dan lembab. Sengatan dari makhluk ini menyebabkan rasa sakit, kedutan otot, mati rasa dan mulut berbusa. Antivenom bisa mengurangi resiko dan banyak tersedia ditempat dimana kalajengking ditemukan.
Kalajengking
Kalajengking bukanlah makhluk agresif. Mereka hanya menyengat ketika terancam, seperti ketika mereka terinjak. Jika anda berada di kandang kalajengking, perlakukan satwa liar dengan hormat dan santai. Pastikan mengguncang sepatu untuk membuat kalajengking keluar dari sepatu anda.

2. Mitos : Burung Pemangsa Berputar-putar Pertanda Ada Bangkai

Faktanya, burung pemangsa maupun pemakan bangkai malambung pada arus termal, aliran udara hangat dari tanah yang panas. Hawa panas memungkinkan burung-burung cepat mendapatkan ketinggian dan tetap tinggi tanpa mengerahkan banyak energi karena mereka tidak perlu mengepakkan sayap. Ketika salah satu burung menemukan udara yang baik, maka yang lain akan bergabung membentuk ketel (nama ilmiah untuk lingkaran burung pemangsa dalam film).
Burung Pemangsa
Jika anda melihat ketel saat berada di alam liar, itu bukan karena burung-burung tersebut melihat bangkai atau karena melihat anda. Burung pemakan bangkai akan terbang ke sumber makanan ketika mereka melihat itu. Namun jika dengan adanya ketel, mereka bersiap-siap untuk bermigrasi mencari makanan.

3. Mitos : Danau Tidak Memiliki Arus

Faktanya, air tawar bisa mengalami arus pecah (rip current) seperti di lautan. Tapi kadang danau memiliki arus yang kecil. Angin adalah faktor terbesar dalam menciptakan arus di danau, mendorong air permukaan untuk membuat gelombang seiches, yaitu gelombang yang hanya naik-turun di tempat, seperti air tumbah di dalam bathtub.

Air di dalam danau secara konsisten mengalir karena perubahan kepadatan yang disebabkan oleh suhu. Ketika matahari memanaskan air permukaan di bagian danau yang dangkal, air disana menjadi kurang padat daripada di tempat yang lebih dalam. Perubahan mengakibatkan tekanan, mendorong dari air dingin ke garis danau.

4. Mitos : Banyaknya Serangka Berarti Dekat Sumber Air

Dalam lingkungan yang gersang, keberadaan serangga air, seperti nyamuk dan capung, sering berarti ada sumber air di dekatnya. Dalam iklim yang lembab, kemungkinan serangga yang ada adalah akibat dari genangan air dimana mereka berkembang biak. Selain itu, tidak semua serangga memiliki larva aquatik yang menghabiskan siklus hidup di dalam air. 

Jadi, kecuali anda bisa mengindektifikasi kawanan kecil serangga di daerah yang kering, jangan menganggap mereka hama yang berarti sumber air sudah dekat. Sebuah indikator sumber air yang baik adalah adanya kawanan hewan yang lebih besar di suatu tempat. Jika anda melihat beberapa hewan ada di sekitar, bisa dipastikan mereka berkumpul di sekitar tempat berair.

5. Mitos : Racun Dari Gigitan Ular Bisa Keluar Dengan Disedot

Mitos yang satu ini berbahaya. Banyak toko yang masih menjual P3K untuk gigitan ular seperti silet maupun alat torniquet. Menghisap racun ular pada tubuh hanya akan membuatnya lebih buruk. Menyedot bisa ular tentu saja tidak bekerja karena racun menyebar melalui sistem limfatik. Apalagi jika meletakkan mulut anda di luka terbuka sangat berpotensi menyebabkan infeksi karena kuman.
Ular

Antivenom adalah satu-satunya pengobatan yang bisa dilakukan untuk gigitan ular dan bisa menurunkan peluang kematian dari gigitan ular. Lebih baik sebelum ke alam liar, anda lebih dulu tau tentang Cara Menanggulangi Gangguan Binatang di Alam Bebas.

Itu adalah 5 mitos di alam bebas yang biasanya sering ditayangkan dalam sebuah film maupun layar lebar. Untuk tetap merasa nyaman dan aman di dalam perjalanan anda, bersihkan diri dari beberapa mitos pedalaman tersebut.

Share :

Facebook Twitter Google+

0 Response to "5 Mitos Pedalaman di Alam Liar yang Perlu Diketahui"

Post a Comment