Mengenal Hewan Darat yang Aman Dikonsumsi di Alam Bebas

Hewan Darat yang Aman Dikonsumsi di Alam Bebas. Binatang apa yang bisa dimakan di alam bebas?, mungkin mie rebus lebih enak melengkapi kegiatan camping daripada memakan binatang layaknya manusia pedalaman. Lalu jika berada di situasi survival, binatang apa yang bisa dimakan di alam bebas?. Ya... hampir semua binatang bisa dimanfaatkan ketika survival di alam bebas. Pada dasarnya sebagian besar sumber daya di alam bisa dimanfaatkan untuk bertahan hidup dan inilah pentingnya teknik survival yang harus dipahami para penggiat alam.

Meski hampir semua binatang bisa dimakan, anda juga harus mengenal binatang apa yang aman dan tidak aman untuk dikonsumsi. Jangan karena tidak tahan menahan perut keroncongan, hewan apapun yang berdaging serasa aman dikonsumsi. Teknik survival tidak se'simple itu. Anda bisa saja melakukan hal yang bisa mempercepat kematian jika tidak tahu cara bertahan hidup yang benar dan aman.

Ada berbagai jenis binatang yang bisa di konsumsi dan umumnya sering ditemui di alam bebas. Berikut adalah binatang-binatang yang bisa dimanfaatkan :

1. Serangga
Ada beberapa jenis Serangga yang Aman Dikonsumsi di Alam Bebas, misalnya jenis belalang dan jangkrik bisa dikonsumsi. Sebelum dikonsumsi, hilangkan sayap dan kakinya, kemudian bisa dimakan dengan dibakar lebih dahulu.
Hewan Darat yang Aman Dikonsumsi di Alam Bebas
Belalang

2. Tempayak
Tempayak putih dan berbagai jenis kumbang pemakan kayu bisa dimakan. Serangga ini terdapat pada kayu yang busuk atau kayu yang sudah mati. Cara mengkonsumsinya yaitu dibelah kemudian dibakar.

3.Unggas
Hampir semua jenis unggas bisa dimakan, seperti burung dan ayam hutan. Namun ada jenis burung yang tidak enak dimakan seperti burung gagak dan burung elang, yang pasti menangkapnya juga susah. Menangkap unggas bisa dilakukan dengan membuat perangkap. Setelah mati, bersihkan bulu unggas, lalu bisa dipanggang atau direbus.

4. Laron
Laron mengandung protein yang tinggi dan menyukai cahaya. Untuk menangkapnya bisa menggunakan light trap yaitu, sediakan wadah berisi air dan simpan di bawah lampu hingga biasanya jatuh dan tertampung dalam wadah. Untuk pengolahan bisa dibakar atau digoreng.

5. Cacing Sonari
Cacing Sonari didapatkan di tanah yang basah sehabis hujan, pada sarang burung yang menempel di pohon atau biasanya hidup di tanaman paku. Sebelum mengkosumsi, bersihkan isinya terlebih dahulu, kemudian dicuci dan dibakar.
Hewan Darat yang Aman Dikonsumsi di Alam Bebas
Cacing Sonari

6. Udang
Udang di laut maupun di sungai bisa dimakan. Pisahkan kepala dan kaki dengan badan, kemudian pengolahannya bisa dibakar atau digoreng.

7. Lebah
Lebah bisa dimanfaatkan karena menghasilkan madu. Dalam prakteknya, cukup susah untuk mendapatkan madu. Jadi jika tidak tahu cara aman mengambil madu, lebih baik tidak dilakukan.

8. Siput
Siput banyak ditemui di hutan, semak, tepi sungai, tepi laut dan sebagainya. Untuk pengolahannya harus direbus terlebih dahulu.

9. Kadal
Kadal biasa dijumpai di sungai atau di tanah yang lembab dan lembek. Bagian yang bisa dimakan adalah daging bagian belakang dan ekor. Cara pengolahan bisa dibakar atau digoreng.

10. Katak
Katak tertentu yang terkenal adalah katak ijo yang biasanya menjadi hidangan di rumah makan. Biasanya katak ijo banyak terdapat di daerah lembab yang banyak mengandung air (genangan air, kolam). Bagian yang paling enak adalah paha. Cara pengolahan yang paling mudah adalah dibakar.
Hewan Darat yang Aman Dikonsumsi di Alam Bebas
Katak Ijo
 
11. Ular
Ular tentu paling sering ditemui di perjalanan seperti di pohon, semak atau tempat lain yang rimbun. Jika ingin mengkonsumsi ular, berhati-hatilah jika ular itu termasuk ular yang berbisa. Sebelum memotong kepala ular, ganjal mulut ular dengan kayu yang melintang, kemudian ular diiat dan potong kepalanya. Kemudian kuliti dan bersihkan bagian dalam tubuhnya. Cara pengolahan setelah dicuci yaitu dengan dibakar atau dipanggang.

Binatang besar lainnya juga dapat dimakan, tapi dituntut pula keahlian dalam menangkap atau membuat perangkap untuk binatang yang diinginkan itu.  Kadang beberapa binatang belum tentu bisa dimanfaatkan menjadi makanan, jadi anda tidak boleh semena-mena pada binatang. 

Lalu bagaimana cara mengetahui ada hewan yang tidak aman dikonsumsi ?

Berikut beberapa sebab kenapa binatang tidak bisa dikonsumsi :

1.  Mengandung Bisa
Bisa merupakan senjata hewan untuk mempertahankan diri, sehingga bisa hewan beracun dan berbahaya bila terkena atau termakan manusia. Namun jika bisa sudah dihilangkan, hewan tersebut bisa dijadikan sebagai bahan makanan. Misalnya kalajengking, ketonggeng racun yang memiliki racun di bagian ekor, sedangkan kaki seribu ada di kepalanya. Setelah bisa tersebut dihilangkan, maka hewan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan. 

Untuk jenis serangga seperti tawon dan lebah, alat penyengat ada di ekor. Melihat kesulitan dan bahayanya, maka hewan tersebut dimanfaatkan untuk dikonsumsi ketika masih menjadi larva atau ulat. 

2. Mengandung Racun
Selain Serangga Beracun di Alam Bebas, ada hewan laut yang mengandung racun seperti penyu laut wau amis (Eretmochelys imbricata) dan pasiran (Lepidochelys clivacoa). Penyu tersebut tidak bisa dimakan karena mengandung racun.

3. Memiliki Bau Khas
Binatang tertentu tidak bisa dimakan karena mempunyia bau khas yang menyengat, biasanya bau busuk yang berfungsi untuk melindungi diri dari pemangsa. Contoh hewan yang menimbulkan bau busuk yaitu tikus busuk atau cecurut (suneus murinus) yang mempunyai kelenjar busuk di mulut dan teledu atau sigung (Mydanus javanesis) yang memiliki kelenjar bau di bawah ekor. Karena bau busuknya tersebut, jarang ada yang memanfaatkan hewan-hewan tersebut untuk dikonsumsi.

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, hampir semua binatang di darat bisa dikonsumsi. Mengkonsumsi hewan yang diinginkan entah besar atau kecil, tergantung dari berbagai faktor, misalnya apakah anda bisa menentukan dimana mendapatkan tempat binatang tersebut sering muncul?, apakah anda bisa membuat perangkap di alam bebas?, apakah anda siap mental untuk mengolah dan mengkonsumsi binatang tersebut?. Hanya situasi darurat yang akan menjawabnya. Selamat Berpetualang !

Memahami Langkah-langkah Kegiatan Survival

Langkah-langkah Kegiatan Survival. Tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi di alam bebas. Meski sudah menggunakan perlengkapan outdoor yang safety, tidak menutup kemungkinan dalam suatu kondisi akan dihadapkan pada situasi darurat yang mengharuskan siapapun untuk survival. Meski secara umum terkesan darurat atau terjadi dadakan, kegiatan survival mempunyai beberapa proses yang harus diperhatikan untuk menunjang kelangsungan hidup survevor.
Langkah-langkah Kegiatan Survival
Bagaimana Kegiatan Survival?
Sebagian kecil orang menganggap bahwa survival adalah sebuah petualangan yang mungkin terjadi di alam bebas. Sebagian besar orang beranggapan survival adalah teknik yang perlu dipelajari dan dikuasai penggiat alam. Sedangkan survival sendiri adalah cara bertahan hidup untuk memperpanjang kehidupan dari kematian yang bisa saja terjadi.


Kegiatan survival harus dilakukan secara terstruktur karena anda'lah yang akan mengatur segalanya, mulai dari tenaga, pikiran bahkan kehidupan singkat anda untuk bertahan hidup dan mencari pertolongan. Dalam situasi seperti ini, alam bisa menjadi sahabat yang sangat baik ataupun malah menjadi musuh yang menakutkan jika anda salah bertindak.

Ada beberapa langkah yang biasanya dijalani dalam melakukan survival :


1. Mengkoordinasikan Tim

Jika anda bukan single backpacker, berkoordinasi dengan tim sangatlah penting. Hal ini perlu dilakukan karena dalam keadaan darurat ataupun tersesat, rekan se-tim ada yang mengalami panik, bahkan masing-masing ingin melakukan apa saja menurut kata hatinya, padahal belum tentu itu benar. Keadaan seperti itu kadang bisa memperkeruh suasana, menimbulkan perdebatan dan perselisihan. Inilah kenapa Survival Mindset perlu dipahami bagi setiap penggiat alam bebas


Dalam keadaan darurat, hal yang diperlukan adalah kekompakan, kerjasama dan saling menghargai, sehingga koordinasi sangat penting dilakukan untuk mencapai kesatuan pendapat untuk memutuskan langkah selanjutnya yang akan diambil. Pada Konsep S.T.O.P Dalam Situasi Tersesat, koordinasi dalam sebuah tim sangat penting untuk menentukan tindakan.


2. Melakukan Pertolongan Pertama

Pertolongan pertama perlu dilakukan karena dalam kondisi darurat, segala bentuk sakit atupun luka kecil bisa berkembang menjadi penghambat yang akan menyulitkan. Untuk itu, beri pertolongan pertama bagi siapapun yang sakit atau luka, kemudian berikan waktu istirahat bagi rekan yang memerlukan. Sedangkan untuk rekan lain yang masih sehat dan bugar, bisa berguna untuk pembagian tugas dalam kegiatan survival.

3. Melihat Kemampuan Tim

Perhatikan dan nilai kemampuan fisik diri sendiri dan rekan se'tim agar kelak tidak menyulitkan kegiatan survival yang sudah direncanakan. Memaksakan kemampuan rekan malah akan membahayakan karena sikap sok jagoan tidak akan menolong dalam kondisi survival. Disinilah peran pimpinan sangat penting untuk membuat rencana berdasarkan pertimbangan kemampuan dan keadaan yang ada.

4. Melakukan Orientasi Medan

Melakukan orientasi medan tanpa peta dan kompas pasti sangat menyulitkan, apalagi bagi penggiat alam yang tidak memiliki pengetahuan orientasi medan. Pada saat tersesat, siapapun dituntut untuk bisa melakukan orientasi medan untuk mengetahui beberapa hal, yaitu :
  • Mengetahui posisi saat itu : Apakah berada di lereng, lembah, gunung atau puncak. Lebih tepat lagi jika mengetahui lokasi koordinat pada peta dimana berada agar seluruh perjalanan bisa mudah diperkirakan. 
  • Mengetahui kemungkinan pemukiman penduduk : Bila tidak ada peta, jalan setapak, ladang ataupun perkebunan bisa menjadi petunjuk bahwa di sekitar ada pemukiman penduduk, dimana disinilah pertolongan akan cepat didapat 
  • Mengetahui perkiraan jalan keluar : Kadang melakukan perjalanan dengan menerobos jalur di gunung bisa menjadi faktor yang menyebabkan tersesat. Kebanyakan kemampuan yang ngawur ini tidak ditunjang dengan ketrampilan membaca peta dan menggunakan kompas. Pada waktu perjalanan, kita bisa menandai tumbuhan khas di suatu tempat, menandai tower tinggi di gunung, jembatan atau perkebunan yang sifatnya permanen. Hal ini cukup membantu saat tersesat. Paling tidak bisa memperkirakan bahwa tempat tersebut pernah dilewati.
Langkah-langkah Kegiatan Survival
Melakukan Orientasi Medan

5. Melakukan Penjatahan Makanan

Kebutuhan makanan harus diatur dengan disiplin dalam keadaan darurat. Perhitungkan jumlah makanan yang ada dengan jumlah tim serta perkiraan waktu yang diperlukan untuk melakukan survival sampai selamat. Hal ini akan mengurangi bahaya kelaparan dan kehausan, meskipun ada Tumbuhan Liar yang Aman Dikonsumsi.

6. Pembagian Tugas

Rencana yang dibuat haruslah rasional berdasarkan pertimbangan yang matang. Pembagian tugas bisa dilakukan saat itu dengan menentukan siapa yang akan bergerak mencari pertolongan, siapa yang tetap tinggal, dan sebagainya. Siapapun yang bergerak mencari pertolongan harus dipastikan mempunyai kondisi fisik dan pengalaman yang baik, serta mempunyai ketrampilan, keberanian, dan tanggung jawab yang tinggi. Sedangkan untuk yang tinggal biasanya adalah rekan yang fisik tidak cukup kuat untuk mobile, tidak sehat atau tidak memungkinkan untuk berjalan. 

Tanpa perencanaan dan kekompakan, pembagian tugas yang terpencar-pencar ini akan sulit dijalin. Sebenarnya berpencar kurang menguntungkan karena pada saat seperti itu, fisik dalam keadaan lemah dan pikiran sedang kacau. Jadi, dengan bersatu dan menjaga kekompakan diharapkan bisa saling menolong, berfikir dan berdiskusi secara matang, sekaligus menghindari rasa takut dan menambah perasaan aman.


7. Menyambung Komunikasi Dengan Dunia Luar

Ini bukan membahas antara dunia nyata dan dunia gaib, melainkan menyambung komunikasi dengan kelompok di luar survivor. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan pesawat komunikasi yang kebanyakan dibawa para tentara perang, sehingga hal ini jarang terjadi. 

Dalam situasi survival, kentongan bisa dibuat dari bambu, panci maupun piring seng yang dipukul berulang-ulang untuk menarik perhatian penduduk, terutama malam hari yang akan membuat suara terdengar lebih jelas. Namun ingat, usaha mencari perhatian dengan melakukan aktivitas yang berlebihan seperti berteriak akan merugikan karena bisa membuat lelah diri sendiri.

Sebaiknya usaha menyambung komunikasi ini dilakukan sebelum berangkat menuju suatu tempat. Misalnya dengan melakukan perizinan pada orang setempat yang memberi keterangan lamanya waktu melakukan kegiatan, sehingga jika pada waktu yang ditentukan belum kembali, tim penolong akan mencari dimana anda berada.


8. Membuat Jejak

Yang sering dilakukan para penggiat alam selama ini adalah tanda bahwa jalan tersebut pernah dilalui. Hal ini bisa memudahkan tim pencari untuk menemukan survivor. Cara yang bisa dilakukan survivor versi militer adalah dengan menguliti pohon atau mematahkan ranting pohon yang menunjukkan arah tujuan berjalan. Sedangkan para pecinta alam biasanya menggunakan tanda alam seperti batu, ranting yang disusun dan mengikatkan tali/pita yang mencolok warnanya.
Langkah-langkah Kegiatan Survival
Membuat Jejak

Cara lain untuk mendapatkan perhatian adalah dengan menggunakan asap api unggun ataupun metode signaling mirror. Ada berbagai jenis Sinyal Bantuan yang Umum Digunakan Ketika Survival yang bisa digunakan untuk mencari perhatian pada tim penolong. Ada pula tanpa yang biasa digunakan sebagai isyarat darurat yang dikenal dengan Sinyal Darurat Internasional. Dengan tujuan yang sama, pemasangan kode darurat yang dibuat dari warna mencolok (baju, celana, dst) bisa diterapkan kepada pesawat penolong. Sehingga, sebaiknya anda menggunakan pakaian berwarna mencolok agar bisa berguna jika sewaktu-waktu anda berada dalam situasi survival.

9. Mendapat Pertolongan

Tidak menutup kemungkinan anda bertemu dengan orang baik ketika sedang melakukan survival. Berharaplah jika orang tersebut tidak sedang survival juga. Pertolongan tidak sengaja misalnya bertemu dengan penggarap ladang, penebang pohon atau pencari rotan. Untuk itu, jalur yang kemungkinan besar biasa dilewati menusia merupakan pilihan yang tepat untuk mendapatkan pertolongan.

Biasanya pemukiman penduduk lebih dekat dengan sumber air, jadi tidak ada salahnya untuk mengikuti aliran sungai untuk mendapat pertolongan sekaligus mengatasi kekurangan air. 

Itulah langkah-langkah kegiatan survival yang normal terjadi dan bisa diaplikasikan dalam kondisi survival. Selamat Berpetualang !


7 Prinsip Penting "Leave No Trace" Untuk Penggiat Alam

7 Prinsip "Jangan Tinggalkan Jejak". Siapapun yang sering menghabiskan banyak waktu di alam bebas, tentu tidak asing dengan istilah "Jangan Tinggalkan Jejak". Hal tersebut adalah prakter terbaik yang harus diikuti untuk menikmati sekaligus melindungi rumah alam kita. Setiap tahun, ada banyak daerah yang terkena dampak sampah, satwa liar yang terhabituasi, erosi jalan, sumber air tercemar dan lain sebagainya. Sementara kebanyakan kita tidak bermaksud menyakiti lingkungan alam. Mungkin kita memang tidak memiliki pengetahuan untuk melestarikan alam, sehingga hanya melihat beberapa perilaku yang menunjukkan hal itu. Lalu siapa yang harus menggunakan prinsip "Jangan Tinggalkan Jejak"?
Prinsip Leave No Trace
Anda pasti pernah mendengar "Jangan ambil apapun kecuali gambar, "Jangan membunuh apapun kecuali waktu, jangan tinggalkan apapun kecuali jejak". Ya.. hanya jejak kaki yang boleh ditinggalkan. Prinsip "Jangan Tinggalkan Jejak" dimulai sebagai panduan penggiat alam bebas di tempt terpencil yang biasanya berkemah. Namun, beberapa panduan prinsip "Jangan Tinggalkan Jejak" juga berlaku untuk yang hidup di daerah perkotaan, maupun tempat yang paling sering dinikmati oleh wisatawan.

Ada 7 Prinsip "Tidak Meninggalkan Jejak", yaitu :

1. Rencanakan di Depan dan Persiapkan

Bila anda kurang siap, kemungkinan besar akan mengalami masalah. sehingga bisa menyebabkan situasi dimana anda menjadi lelah dan takut. Hal ini bisa menjadi penyebab anda terpaksa melakukan pilihan yang buruk. Merencanakan segala sesuatu di deoan mencangkup melakukan penelitian tentang tujuan anda, sehingga anda bisa berkemas dengan tepat. Anda memerlukan beberapa Tips Backpacking yang akan berguna dalam hal ini. Berikut hal-hal yang bisa menjadi pertimbangan untuk merencanakan dan mempersiapkan perjalanan :
  • Ketahui peraturan dan perhatian khusus untuk area yang akan dikunjungi.
  • Siapkan untuk cuaca ektrim dan keadaan darurat.
  • Jadwalkan perjalanan anda untuk menghindari kunjungan yang tinggi.
  • Datanglah dalam kelompok kecil jika memungkinkan. Pertimbangkan untuk membelah kelompok besar menjadi kelompok kecil.
  • Isi ulang makanan untuk meminimalkan limbah.
  • Gunakan peta dan kompas untuk menghilangkan penggunaan cat, batuan maupun tanda di pohon.
Rencanakan dan Persiapkan

2. Berkemah di Tempat yang Tahan Lama

Saat menjelajahi daerah sekitar dan berniat berkemah, carilah jenis medan yang tepat. Permukaan tanah tahan lama dan ideal meliputi jalan setapak dan tempat perkemahan, batu, kerikil dan rumput. Jika berada di daerah yang populer, pertimbangkan hal-hal berikut :
  • Konsentrasilah pada jalur yang ada dan tempat berkemah.
  • Berkemahlah setidaknya 6 meter dari danau dan sungai.
  • Bangun kemah kecil anda dan beraktivitaslah di tempat dengan vegetasi jarang.
  • Berjalanlah tetap ikuti jalan setapak meski jalannya basah atau berlumpur.
Jika anda berada di tempat yang masih alami, hindari membuka tempat perkemahan maupun jalan setapak baru.

3. Buang Limbah dengan Benar

Prinsip ini berlaku untuk segala limbah mulai dari air kumur hingga kotoran manusia. Lalukan beberapa hal berikut :
  1. Periksa tempat kemah anda dan kemas sampah makanan, makanan sisa maupun makanan yang tumpah. Selalu tinggalkan tempat lebih bersih dari sebelumnya.
  2. Simpan sampah manusia padat di bawah tanah. Gali di kedalaman 6-8 inch dan minimal 10 meter dari air, tempat camp maupun jalan setapak. Tutup saat selesai.
  3. Pakailah kertas toilet dan produk kebersihan.
  4. Untuk mencucui diri atau piring, bawalah air setidaknya 10 meter dari sungai atau danau. Gunakan sejumlah kecil sabun biodegradable.
Buang Sampah Dengan Benar

4. Tinggalkan Apapun yang Ditemukan

Seperti kode etik pecinta alam, tinggalkan jejak kaki saja sangat baik. Lebih baik lagi jika anda meninggalkan lebih sedikit jejak kaki. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam meninggalkan apapun yang ditemukan, yaitu :
  1. Pertahankan situs sejarah masa lalu. Anda bisa memeriksa, tapi usahakan tidak menyentuk struktur budaya, sejarah dan artefak.
  2. Tinggalkan batu, tanaman dan benda alam lainnya jika menemukannya.
  3. Jangan membangun struktur, furnitur atau menggali parit. 

5. Minimalkan Dampak Api Unggun

Bisa dibilang api unggun adalah ritual berkemah abadi, tapi api unggun juga bisa menjadi perusak alam. Pilihan yang lebih baik adalah kompor ringan untuk memasak dan lentera lilin untuk cahaya. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk meminimalkan dampak api unggun : 
  1. Jagalah api tetap kecil. Gunakan ranting yang bisa dipatahkan dengan tangan untuk membuat api unggun.
  2. Bakar semua kayu dan bara menjadi abu, padamkan api sepenuhnya dan hancurkan abu dingin.
  3. Bila terjadi kebakaran, tutup api unggun dengan tanah.
Anda harus paham Cara Membuat Api Unggun yang Aman dan bisa menjadi pedoman untuk mencegah hal buruk terjadi.

6. Hormati Satwa Liar

Jangan mendekati binatang liar. Mengenai hewan liar, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
  1. Amati satwa liar dari kejauhan. Jangan ikuti atau mendekati mereka.
  2. Jangan pernah memberi makan hewan karena memberi makan satwa liar bisa mengubah perilaku alami dan menghadapkan mereka pada predator berbahaya lainnya.
  3. Lindungi makanan anda dengan nyimpan makanan dan sampah dengan aman.
  4. Hindari satwa liar selama masa sensitif seperti masa kawin, bersarang, membesarkan anak dan musim dingin.
Hormati Hewan Liar

7. Jadilah Perhatian Orang Lain

Perlakukan orang lain seperti anda ingin diperlakukan. Hal tersebut juga berlaku di luar rumah. Bagaimana caranya? 
  1. Hormati pengunjung lain dan lindungi kualitas pengalaman mereka.
  2. Bersikaplah sopan terhadap siapapun di jalur.
  3. Istirahat dan berkemahlah tidak terlalu dekat dengan jalan setapak maupun dari pengunjung yang lain, kecuali terpaksa.
  4. Biarkan suara alam menang. Hindari suara keras.
Jadilah Perhatian Orang Lain
Itu adalah 7 prinsip "Jangan Tinggalkan Jejak" yang perlu diketahui selaku pecinta alam. Sebelum menuju ke alam terbuka, jagalah 7 hal diatas. Perilaku dan jejak yang ditinggalkan bisa menjadi faktor hilangnya ciri khas natural alam kita. Memulai prinsip Leave No Trace bisa dimulai dari hal-hal kecil di sekeliling dan katakan "jangan tinggalkan jejak kecuali jejak kaki" dimanapun anda berada. Selamat Berpetualang !

Teknik Menyeberangi Sungai Berarus Deras di Alam Bebas

Teknik Menyeberangi Sungai Berarus Deras di Alam Bebas. Dari persiapan hingga menyelesasikan perjalanan, pertualangan ke alam bebas memang selalu rumit. Petualangan ke alam bebas tidak selalu menyajikan petualangan di darat, tapi siapapun harus siap berhadapan dengan air, entah danau maupun sungai yang cukup besar. Menyeberangi sungai yang bergerak cepat atau jeram bisa menjadi tugas yang rumit. Berhadapan dengan itu pasti merupakan hal yang tidak aneh. Mungkin anda sedang berburu di wilayah baru atau sedang berkemah, kadang ada saat dimana anda perlu menyeberangi sungai dalam beberapa jenis situasi hidup. 
Teknik Menyeberangi Sungai
Persiapan adalah kunci ketika anda memulai perjalanan yang berhubungan dengan kelangsungan hidup dan menyeberangi sungai jeram tidak berbeda dengan hal itu. Ada beberapa hal yang harus dilakukan dan dipertimbangkan ketika anda berada di situasi tersebut.

Kapan saja anda berencana untuk menyeberangi sungai dengan arus yang jeram, ketahuilah bahwa ini merupakan situasi yang berbahaya. Jika memungkinkan, penyeberangan sungai harus dihindari. Cara terbak untuk menilai sebuah sungai adalah dengan naik ke titik yang lebih tinggi, seperti memanjat pohon maupun bukit. Hal ini akan memberi penjelasan tentang medan di depan dan daerah anda berada.

Tapi ada yang lebih dari itu, ada beberapa hal yang perlu dipikirkan dan dipertimbangkan ketika anda berada pada situasi 'penyeberangan sungai', yaitu :

1. Seberapa penting anda harus menyeberangi sungai?
Menyeberangi sungai dengan arus jeram adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan karena berbahaya. Anda harus bertanya kepada diri sendiri, apakah itu hal yang harus anda lakukan?

2. Siapa yang menyeberang bersama anda?
Menyeberangi sungai jeram sendirian saja berbahaya, apalagi jika ada orang lain bersama anda, tentu faktor apapun yang bisa terjadi jauh lebih besar.  Berapa banyak orang harus menyeberang?, seberapa kuat dan matang orang-orang ini?, apakah anda dan mereka bisa berenang?, jika bisa, seberapa baik?. Itu adalah pertanyaan penting pada diri anda jika berniat menyeberangi sungai jeram.

3. Apa yang ada di air kecuali anda?
Hal itu tergantung di mana sungai tersebut ada. Di beberapa daerah maupun negara, dalam situasi perairan ada daerah koloni ikan piranha, ular, beruang, maupun hewan lainnya. 

4. Seberapa cepat air sungai bergerak?
Arus sungai juga perlu dipertimbangkan. Anda harus bisa mengukur kemampuan anda terhadap arus sungai. Apa arusnya lambat atau cepat.

5. Apakah harus menyeberang sungai di tempat anda berada?
Anda tentu berfikir apa sungai ini berakhir di air terjun?. Jika anda menentukan akan menyeberang sungai tersebut, lakukan dengan benar dimana anda berada. Anda bisa pergi ke hulu atau hilir untuk menemukan persimpangan yang lebih mudah jika anda memiliki jumlah waktu yang anda miliki. 

Tetap pertimbangkan juga sifat sungai, kecepatan aliran sungai, kedalaman air, bentuk air, poin masuk dan keluar, kemampuan kelompok, dinginnya air dan alternatif yang lebih aman.



Cocok diseberangi
Tidak cocok diseberangi
Air dangkal (batas paha) yang mengalir teratur
Air yang tinggi dan berubah-ubah
Air dangkal mengalir deras di bebatuan dengan arus variabel
Aliran air sungai dengan volume berlebihan
Air dalam dengan aliran sungai yang lambat, tetapi tidak terlalu lebar
Sungai lebar yang berlebihan


 

 

 

Teknik menyeberangi sungai dengan arus cepat.

1. Carilah Batang Pohon
Jika sungai cukup lebar dan dalam, anda bisa meletakkan batang pohon di sekitar badan air dan naiklah ke atasnya atau menyeberang dengan batang pohon sebagai pelampung. Jika anda memiliki sebuah kapak, anda bisa memilih pohon untuk menyeberang. Ingatlah bahwa batu tajam bisa bertindak sebagai alat potong darurat. Lebih baik lagi jika anda bisa membuat rakit penyeberangan darurat.
Menyeberang Dengan Tali
Jika anda pergi dengan banyak orang, anda bisa menyeberang lebih dulu dengan tali yang sudah dikaitkan ke pohon atau batu sebagai tumpuan dan juga dikatkan ke perjelangan tangan anda. Anda bisa membuat jalur lintas yang akan dilalui banyak orang. Aturlah tali lain sehingga berfungsi sebagai hardness dan carabiner untuk menyeberang orang selanjutnya. Hal ini tergantung seberapa bisa anda pergi ke seberang karena hal itu menentukan apakah solusi ini layak.

2. Melepas Sepatu.
Ketika menyeberang atau berniat berjalan di sungai, entah sungai dangkal atau dalam, lebih baik lepas sepatu anda. Berjalan di batuan sungai adalah ide buruk yang membuat anda bisa tergelincir. Jika sungai dangkal memungkinkan anda berjalan, pakailah sepatu boot dan pakailah tongkat yang kuat untuk menyeimbangkan tubuh. 
Jaga Keseimbangan Tubuh
Namun, jika anda harus berenang menyeberangi sungai, carilah tempat yang tanpa atau hampir tanpa batu. Alasan pertama, karena air di daerah berbatu cenderung bergerak cepat dan kedua, batu sangat berbahaya jika kontak langsung dengan anda.

3. Gunakan Perangkat Flotasi
Jika anda tau medan bahwa perjalanan anda akan menyeberangi sungai, membawa perangkat flotasi (jaket pelampung) tidak ada salahnya. Pilihlah bagian yang sempit dari sungai untuk menyeberang  karena bergerak di tengah arus air akan sangat melelahkan. Melepas pakaian dan membawanya di atas kepala anda mungkin ide yang bagus jika tidak ingin berurusan dengan hipotermia setelah menyeberang, tapi... hindari air terjun.

4. Mempertahankan Posisi Horinsontal
Jika pilihan anda satu-satunya adalah berenang di arus jeram, jagalah posisi tubuh anda tetap horisontal dengan air. Hal ini akan mengurangi kemungkinan ditarik arus dari bawah yang bisa menghisap anda tenggelam.

5. Pastikan Tempat Mendarat
Berjalan di arus air, anda tidak mungkin bergerak pada sudut 90 derajat, ukurlah sudut 45 derajat ke arah arus untuk memperkiraan tempat mendarat anda. Pastikan anda menuju area yang tepat sehingga dengan aman bisa mencapai sisi yang lain. 
Perkirakan Tempat Mendarat
 Itu adalah beberapa jawaban dari pertimbangan yang mungkin sempat terpikir di benak anda ketika akan melintasi sungai dengan arus deras di alam bebas. Mungkin lebih bijaksana jika anda menghindari menyeberangi sungai, tapi jika anda sudah tau medan perjalanan, tentu persiapan anda sudah lebih matang dari beberapa teknik darurat tersebut. Tapi siapapun tidak pernah tau situasi apa yang akan terjadi. So, keep safety. Selamat Berpetualang !



5 Mitos Pedalaman di Alam Liar yang Perlu Diketahui

Mitos Pedalaman di Alam Liar. Hidup di alam bebas cukup jauh berbeda. Banyak cara-cara liar yang tampak membingungkan, seperti takhayul, perilaku hewan liar, perilaku alam dan lain sebagainya yang terlalu banyak untuk dihitung. Ada beberapa yang tidak berbahaya, tapi karena mengikuti cara orang lain bahwa itu berbahaya, bisa membuat siapapun banyak masalah. Pergi ke alam liar seolah-olah pergi untuk hal yang amat sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kematian dalam situasi yang tidak beruntung.
Mitos di Alam Liar
Pengetahuan kehidupan alam liar bisa dilihat di TV pendidikan maupun film. Berbagai hal mudah dikenal melalui film dan ini saatnya untuk menyaring beberapa mitos di alam liar yang tentu saja tidak asing di telinga.

1. Mitos : Semua Kalajengking Akan Membunuh Anda

Faktanya, meski semua kalajengking beracun, tidak banyak yang benar-benar berbahaya. Dari sekitar 1.500 spesies kalajengking di dunia, 25 diantaranya bisa memberikan dosis racun yang berpotensi mematikan. Hanya ada satu dari mereka yaitu Kalajengking Arizona, di Amerika Serikat. Kalajengkin ini aktif di malam hari dan tinggal di daerah dingin dan lembab. Sengatan dari makhluk ini menyebabkan rasa sakit, kedutan otot, mati rasa dan mulut berbusa. Antivenom bisa mengurangi resiko dan banyak tersedia ditempat dimana kalajengking ditemukan.
Kalajengking
Kalajengking bukanlah makhluk agresif. Mereka hanya menyengat ketika terancam, seperti ketika mereka terinjak. Jika anda berada di kandang kalajengking, perlakukan satwa liar dengan hormat dan santai. Pastikan mengguncang sepatu untuk membuat kalajengking keluar dari sepatu anda.

2. Mitos : Burung Pemangsa Berputar-putar Pertanda Ada Bangkai

Faktanya, burung pemangsa maupun pemakan bangkai malambung pada arus termal, aliran udara hangat dari tanah yang panas. Hawa panas memungkinkan burung-burung cepat mendapatkan ketinggian dan tetap tinggi tanpa mengerahkan banyak energi karena mereka tidak perlu mengepakkan sayap. Ketika salah satu burung menemukan udara yang baik, maka yang lain akan bergabung membentuk ketel (nama ilmiah untuk lingkaran burung pemangsa dalam film).
Burung Pemangsa
Jika anda melihat ketel saat berada di alam liar, itu bukan karena burung-burung tersebut melihat bangkai atau karena melihat anda. Burung pemakan bangkai akan terbang ke sumber makanan ketika mereka melihat itu. Namun jika dengan adanya ketel, mereka bersiap-siap untuk bermigrasi mencari makanan.

3. Mitos : Danau Tidak Memiliki Arus

Faktanya, air tawar bisa mengalami arus pecah (rip current) seperti di lautan. Tapi kadang danau memiliki arus yang kecil. Angin adalah faktor terbesar dalam menciptakan arus di danau, mendorong air permukaan untuk membuat gelombang seiches, yaitu gelombang yang hanya naik-turun di tempat, seperti air tumbah di dalam bathtub.

Air di dalam danau secara konsisten mengalir karena perubahan kepadatan yang disebabkan oleh suhu. Ketika matahari memanaskan air permukaan di bagian danau yang dangkal, air disana menjadi kurang padat daripada di tempat yang lebih dalam. Perubahan mengakibatkan tekanan, mendorong dari air dingin ke garis danau.

4. Mitos : Banyaknya Serangka Berarti Dekat Sumber Air

Dalam lingkungan yang gersang, keberadaan serangga air, seperti nyamuk dan capung, sering berarti ada sumber air di dekatnya. Dalam iklim yang lembab, kemungkinan serangga yang ada adalah akibat dari genangan air dimana mereka berkembang biak. Selain itu, tidak semua serangga memiliki larva aquatik yang menghabiskan siklus hidup di dalam air. 

Jadi, kecuali anda bisa mengindektifikasi kawanan kecil serangga di daerah yang kering, jangan menganggap mereka hama yang berarti sumber air sudah dekat. Sebuah indikator sumber air yang baik adalah adanya kawanan hewan yang lebih besar di suatu tempat. Jika anda melihat beberapa hewan ada di sekitar, bisa dipastikan mereka berkumpul di sekitar tempat berair.

5. Mitos : Racun Dari Gigitan Ular Bisa Keluar Dengan Disedot

Mitos yang satu ini berbahaya. Banyak toko yang masih menjual P3K untuk gigitan ular seperti silet maupun alat torniquet. Menghisap racun ular pada tubuh hanya akan membuatnya lebih buruk. Menyedot bisa ular tentu saja tidak bekerja karena racun menyebar melalui sistem limfatik. Apalagi jika meletakkan mulut anda di luka terbuka sangat berpotensi menyebabkan infeksi karena kuman.
Ular

Antivenom adalah satu-satunya pengobatan yang bisa dilakukan untuk gigitan ular dan bisa menurunkan peluang kematian dari gigitan ular. Lebih baik sebelum ke alam liar, anda lebih dulu tau tentang Cara Menanggulangi Gangguan Binatang di Alam Bebas.

Itu adalah 5 mitos di alam bebas yang biasanya sering ditayangkan dalam sebuah film maupun layar lebar. Untuk tetap merasa nyaman dan aman di dalam perjalanan anda, bersihkan diri dari beberapa mitos pedalaman tersebut.